السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

kisah seputar keluarga

Sabtu, 25 Februari 2017

KISAH PEMUDA DAN BATU ZAMRUD


Ini adalah kisah di zaman tabi'in, seorang pemuda yang tinggal di Mekah. Anak muda ini dikenal rajin ibadah masya Allah, ahli ibadah.

Begini kisahnya...

Sehabis sholat dzhuhur di masjidil haram, lalu waktu keluar dari masjid dia temukan di halaman masjid tergeletak suatu kantong kain berwarna biru. Dia lihat, kemudian diambil sama dia kantong itu, lalu dibuka.

Ternyata di dalamnya ada batu zamrud, warnanya biru dan bagus.  Pemuda ini lalu berdiri di atas batu lalu teriak, "Wahai penduduk Mekah, saya menemukan ini nih, kantong warna biru, siapa pemiliknya?"

Ga ada orang jawab, padahal di situ ada banyak sekali pedagang. Kita bisa bayangkan bagaimana keimanan orang-orang pada zaman itu. Di zaman sekarang mungkin ga usah diiklanin, kantong itu udah ilang, ada yang ngambil. Ini diiklankan tidak ada yang mengaku, dua kali dia teriak, "Wahai penduduk Mekah, siapa pemilik kantong ini?" Lagi-lagi tidak ada yang jawab.

Tiga kali dia coba iklankan, bahkan sampai sepuluh kali, lagi-lagi tidak ada yang datang mengaku pemilik kantong tersebut. Akhirnya dia bilang kepada penduduk Mekah, "Kalian tahu di mana rumah saya, kalau ada orang yang nanya kantongnya yang hilang, tunjukkan rumah saya."

Subhanallah menjelang waktu ashar ada satu orang tua datang kemudian naik di batu yang sama tempat pemuda tadi mengiklankan kantong itu. Lalu kakek itu teriak, "Wahai penduduk Mekah, adakah yang menemukan sebuah kantong yang tergeletak di halaman masjid, itu adalah kantong saya. Kalau ada yang temukan akan saya beri imbalan 500 dirham."

Imbalan yang cukup besar mungkin kalau sekarang bisa belasan juta atau puluhan juta rupiah. Kakek itu mencoba mengiklankan sampai tiga kali, baru kemudian ada yang datang seorang pedagang mengatakan, "Tadi waktu habis sholat dzhuhur ada seorang pemuda penduduk Mekah mengaku menemukan kantong, rumahnya di sana, silakan anda ke sana."

Pergilah kakek itu ke sana. Pas tiba di sana, diketuk pintu rumah itu, lalu bersalaman sama anak muda itu, lalu bertanya, "Apakah kau temukan kantong saya yang sebelumnya tergeletak di halaman masjidil haram?" Anak muda itu mengatakan, "Iya, bisakah kau sebutkan ciri-cirinya?" Kakek itu kemudian menerangkan ciri-ciri kantong itu, isinya ada batu zamrud, warnanya ini dan seterusnya.

Anak muda itu kemudian yakin bahwa kakek ini memang pemilik kantong tersebut. Lalu diberikan lah kantong tersebut kepada kakek ini. Kakek ini berfikir anak muda ini tahu imbalan yang akan dia berikan, kemudian dia mengeluarkan 500 dirham dan memberikannya.

Anak muda ini berkata, "Mohon maaf, apa ini?" Kakek ini menjawab, "Ini imbalan, karena kamu sudah menemukan kantong saya." Pemuda itu berkata, "Tidak, saya niat kembalikan karena Allah, tidak ada yang lain." Kakek ini bilang, "Pokoknya ambil saja, karena ini janji saya." Pemuda ini bilang, "Tidak, saya tidak bisa terima, tidak ada urusan dengan uang ini."

Kakek ini kemudian merasa kagum dengan keimanan anak muda ini, imannya luar biasa, tidak mau terima balasan sejumlah uang yang cukup besar itu. Akhirnya kakek itu tidak memaksa lagi, dianggap urusannya sudah selesai, lalu keluarlah ia dari rumahnya, pamit undur diri kepada pemuda ini.

Ringkas cerita, kira-kira tiga bulan setelah itu, anak muda ini merasa agak sedikit himpit ekonomi, dan ia ingin keluar dari kota Mekah. Keluarlah ia ke Jeddah, di sana ada pelabuhan, anak muda ini naik kapal ingin merantau cari rezeki.

Di tengah lautan kapalnya dihantam ombak yang besar sampai hancur. Dan anak muda ini pun alhamdulullah selamat di atas satu papan pecahan kapal. Dia terbangun menjelang shubuh, disadari ia ternyata terdampar di sebuah pulau. Lalu dia sadar ini menjelang shubuh, harus sholat.

Kemudian ia lihat di pinggir pantai itu ada sebuah masjid. Masjid ini sudah kotor, banyak sarang laba-laba. Dalam keadaan tubuhnya yang lemas, dia paksakan untuk membersihkan masjid itu. Pas masuk waktu shubuh, lalu dia adzan.

Pas dia adzan, masyarakat sekitar masjid datang. Lalu dia ditanya, "Anda ini siapa?" Dia bilang, "Saya musafir, kapal saya tenggelam dan saya terdampar di pulau ini." Dikasihlah dia baju, lalu disuruhlah ia jadi imam sholat. Waktu dia jadi imam sholat suaranya bagus, memang anak muda ini penuntut ilmu yang baik.

Masyarakat di pulau itu merasa cocok dengan anak muda ini, maka mereka memintanya untuk tinggal di pulau itu untuk jadi imam masjid, karena imam sebelumnya sudah meninggal dunia. Setelah tiga bulan tinggal di situ, masyarakat kampung itu berkata, "Wahai anak muda, kami merasa cocok dengan kamu, maukah kamu kami nikahkan dengan anak gadis terbaik kami?"

Lalu di panggillah anak gadis di kampung itu yang menurut mereka paling baik, datang bercadar, begitu datang di masjid, pemuda itu duduk di mihrab, perempuan ini duduk di hadapannya untuk dilihat wajahnya.

Tiba-tiba pemuda ini kaget melihat perempuan itu, karena di lehernya ada kalung, ada batu zamrudnya. Dan dia melihat batu ini persis seperti batu yang ia temukan di Mekah enam bulan yang lalu. Maka ia lihat terus batu zamrud itu.

Lalu masyarakat itu bilang, "Wahai anak muda kau dzalimi perempuan ini. Kami datangkan untuk lihat wajahnya, bukan permatanya." Maka dia bilang, "Saya punya kisah dengan batu ini." Batu ini begini begitu, dia cerita enam bulan yang lalu. "Di Mekah saya bertemu seorang kakek pemilik batu ini...."

Begitu dia bilang seorang kakek.... tiba-tiba masyarakat satu masjid semuanya meneriakan takbir, "Allahu Akbar!" Kaget dia, "Kenapa kalian bertakbir?"

Mereka menjawab "Apa kamu tau siapa kakek itu? Yang kamu tidak mau ambil dirhamnya dan kau kembalikan batu zamrudnya."

Pemuda itu bilang, "Saya tidak tahu."

Lalu mereka bilang, "Kakek itu adalah ayahnya dari perempuan ini... dan dia adalah pemimpin kami di pulau ini... dialah imam masjid kami yang sudah meninggal. Dan dia sewaktu pulang dari Mekah menceritakan kebaikan seorang pemuda yang tidak mau menerima imbalannya dan sebelum meninggal dia sempat berdoa, Ya Allah jadikanlah anak muda di Mekah itu jodoh anak saya."

Subhanallah...

Hikmah dari kejadian ini, berawal dari batu zamrud yang sebelumnya ia kembalikan karena Allah, kemudian Allah jadikan batu itu dengan cara-Nya menjadi haknya dia. Bahkan Allah tambahkan ia memiliki istri pemilik batu zamrud itu.

Begitulah balasan bagi orang yang bertakwa kepada Allah S.W.T.

Silakan share jika dirasa bermanfaat...
Dan nanti kan kisah2 yg lain nya

Sumber : Lampu Islam Youtube Channel

Copas dari group di wa
*****

CINTA YANG DI AJARKAN SITI KHADIJAH SEHINGGA RASULULLAH PUN MENANGIS.

Suatu ketika Rasulullah SAW. pulang dalam keadaan sangat letih dari medan dakwah. Ketika hendak masuk rumah, Khadijah biasanya menyambut beliau berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri menyambut Suami tercinta, Rasulullah berkata: “Wahai Khadijah tetaplah di tempatmu.”

Saat itu Khadijah sedang menyusui anaknya Fatimah yang masih bayi. Rasulullah faham dengan kesetiaan Khadijah, Rasulullah TAKJUB dengan pengorbanan Khadijah. Meskipun dalam keadaan LELAH menjaga rumah tangganya. Mekipun dalam keadaan LETIH dalam memelihara anaknya, Khadijah masih sempat menunjukkan KESETIANNYA kepada sang Suami walau dengan hal yang SEDERHANA. Bahkan seluruh harta bendanya diberikan kepada Nabi demi perjuangan Islam dan bahkan lebih dari itu, jiwa dan raganya diperuntukkan untuk Islam.

Tidak jarang Khadijah menahan lapar sambil menyusui anaknya Fatimah ra. Sehingga yang keluar bukan air susu lagi tapi DARAH yang keluar yang MASUK kemulut fatima Melihat Khadijah letih menyusui anaknya, Rasulullah mengambil Fatimah dan diletakkan di tempat tidurnya.

Gantilah Rasulullah berbaring dipangkuan sang Istri. Karena Rasulullah begitu lelah dan letih dari mendakwahkan islam kepada umatnya yang menolak seruannya, beliaupun tertidur dipangkuan sang istri. Katika itulah khadijah dengan belaian kasih sayang membelai rambut Beliau. Tak terasa AIR MATA Khadijah al-Kubra menetes mengenai pipi Rasulullah SAW. Nabipun terjaga

“Wahai Khadijah kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta bendamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” Khadijah al-Kubra berkata, “Wahai suamiku, wahai Nabi Allah, bukan itu yang aku tangiskan. Dulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki kebangsawanan, kebangsawanan itupun aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang ini aku tidak memiliki apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.”

“Wahai Rasulullah, seandainya aku telah MATI sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, kemudian engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, ..engkau hendak menyebrangi sebuah sungai dan engkau tidak menemukan satu perahu pun ataupun jambatan, maka engkau gali lubang kuburku, engkau gali kuburku, kemudian ambillah TULANG BELULANGKU, engkau jadikan jembatan sebagai jalan menyeberangi sungai itu untuk menemui umatmu.

DAN RASULULLAH PUN MENANGIS.

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus..dan kumpulkan lah kami semua kepada sang cahaya di yaumil qiyamah yaitu Rasulullah saw..

Haturnuhun Anwar Fuadi untuk tadzkirah nya

Rabu, 22 Februari 2017

Wahai Rasulullah mengapa Engkau menangis?

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Pada suatu hari Rasulullah SAW ditemui oleh malaikat Jibril. Rasul bertanya “Ada apa wahai Jibril?”.

Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, sesungguhnya hari ini Allah SWT sedang mengobarkan nyala api Neraka dan seluruh Malaikat amat ketakutan, mereka tidak tahu harus bagaimana,

Untung aku ingat bahwa engkau adalah sumber cinta dan sayang Allah SWT kepada alam semesta. Dengan alasan itu aku ke sini, bertabaruk dengan cinta Allah kepada dirimu".

Rasulullah SAW terdiam beberapa saat. Kemudian bertanya lagi, “Wahai Jibril, ceritakan padaku bagaimanakah neraka itu sesungguhnya”.

Jibril menjawab “Wahai Muhammad, Neraka itu bagaikan lubang-lubang yang terdiri dari 7 tingkat. Jarak antara satu lubang dengan yang lain ialah perjalanan 70 tahun. Lubang yang paling bawah adalah yang paling panas".

Nabi SAW meneruskan pertanyaannya, "Lalu siapakah penghuni lubang-lubang neraka itu wahai Jibril?”.

Jibril menjawab, “Lubang yang paling bawah diciptakan untuk orang orang munafik, lubang berikutnya untuk penyembah berhala, lalu untuk penyembah bintang dan matahari".

Jibril terus menerangkan penghuni tingkatan neraka hingga lubang yang ke 5 tempatnya umat Yahudi dan yang ke 6 dihuni oleh umat Nasrani. Setelah menjelaskan penghuni 6 tingkatan Neraka, Jibril diam cukup lama.

Rasulullah SAW penasaran dan bertanya kembali, “Wahai Jibril, siapakah penghuni neraka yang ke 7?”. Jibril diam saja tidak menjawab.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaannya, tapi Jibril tetap diam.
Rasulullah SAW tambah penasaran dan mendesak jibril agar dijawab pertanyaannya.

Akhirnya Jibril pun berkata, “Umatmu wahai Muhammad, mereka itu para pelaku dosa besar di kalangan umatmu yang dimana sampai mereka mati belum sempat bertaubat".

Mendengar jawaban Jibril, Rasulullah SAW langsung jatuh pingsan. Jibril merangkulnya dan meletakkan tubuh baginda di atas pangkuannya.

Tak berapa lama Rasulullah SAW sadar dan langsung menangis bersimbah air mata, dengan terisak-isak Rasulullah SAW mempertegas pertanyaannya, “Wahai Jibril, apakah benar ada diantara umatku yg masuk neraka?”.

Jibril menjawab“Benar wahai Muhammad, pelaku dosa besar di antara umatmu yang belum bertaubat".

Setelah itu Rasulullah SAW langsung menghadap kiblat dan sujud kepada Allah SWT dalam isak tangisnya.

Sesekali dengan suara pelan beliau membisikkan kata-kata "Ummati ya Rabb, ummati, ummati, ummati...."

Beliau SAW tidak mengangkat kepalanya dalam keadaan seperti itu selamat 3 hari 3 malam kecuali setiap Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan, barulah beliau bangkit untuk menjadi imam dan setelah itu kembali sujud lagi.

Pada hari ke 3, Abu Bakar ra menyadari hal ini, beliau mengetuk pintu Rasulullah SAW dan mengucapkan salam 3 kali, namun tidak terdengar jawaban.

Abu Bakar ra sedih dan berseru di depan pintu Nabi SAW, “ Apakah ada jalan untuk masuk ke rumah Rasulullah”. Tetap tidak ada jawaban.

Lalu beliau menangis dan melangkah pulang
Di jalan beliau bertemu sahabat Umar ra, “Mengapa engkau menangis wahai Abu Bakar?”.

Abu Bakar ra menceritakan keadaan Rasulullah SAW. Maka Umar ra pun melangkah menuju rumah Nabi SAW dan terjadilah hal yang sama. Umar pun pulang dan menangis.

Di jalan beliau bertemu Salman Al Farisi ra. Dengan terisak-isak Umar ra bercerita kepada Salman ra hingga membuat dia amat sedih, namun dia tidak berani mengulangi hal yang sama.

Salman melangkah menuju rumah Fatimah ra dan menceritakan hal itu.

Setengah berlari Fatimah ra menuju rumah Ayahnya SAW dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.

Mendengar suara lembut putri tercinta, sejuklah dada Nabi SAW. Rasullah SAW bangkit dari sujud dan membuka pintu.

Alangkah terkejutnya Fatimah ra melihat beliau yang amat kurus dan pucat.

Fatimah memeluk beliau saw lalu menangis. “Wahai ayahanda, apa yang terjadi? mengapa engkau amat sedih seperti ini?”.

Rasulullah SAW kembali menangis dan berkata dengan suara lirih, “Wahai Fatimah, belahan jiwaku, bagaimana mungkin aku tidak sedih sedangkan Jibril mengatakan akan ada kelak umatku yang akan masuk neraka".

Begitu besarnya Cinta Nabi Muhammad SAW kepada kita.
Apakah cinta beliau akan terbalaskan...
Atau hanya akan menjadi cinta bertepuk sebelah tangan ?

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد عدد خلقك ورضا نفسك وزينة عرشك ومدد كلماتك

Kami sangat mencintaimu Yaa Rasullullah....